
NNCJABAR.COM | Kabupaten Bandung Barat – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus berupaya meningkatkan kewaspadaan dan kemampuan seluruh elemen dalam menghadapi risiko bencana. Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan peningkatan kapasitas yang melibatkan aparatur desa dan masyarakat Bertempat di Hotel Narima Lembang ( 04 / 06 / 3026 ) dengan mengedepankan pendekatan kolaboratif yang dikenal sebagai Pentahelix.
Pendekatan ini menekankan sinergi lima unsur utama yang saling mendukung, yaitu pemerintah, masyarakat, media, akademisi—termasuk perwakilan dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)—serta dunia usaha. Kerja sama lintas sektor ini dinilai menjadi fondasi penting agar penanggulangan bencana dapat berjalan efektif, terkoordinasi, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Kegiatan strategis ini dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD KBB yang baru, H. Dudi Prabowo, S.Sos., M.M., yang menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan prioritas utama dalam membangun ketangguhan daerah.
Pada tahap awal pelaksanaan, kegiatan ini difokuskan di tiga wilayah kecamatan yang menjadi lokus utama, yaitu Kecamatan Lembang, Saguling, dan Ngamprah. Menurut rencana, kegiatan serupa akan diperluas dan diagendakan menjangkau kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Bandung Barat pada tahap-tahap berikutnya.
Peserta yang hadir terdiri dari berbagai unsur penting di tingkat desa, meliputi aparatur desa, relawan masyarakat, pengelola Desa Tangguh Bencana (Desana), serta perwakilan dari Forum Desana se-KBB. Keikutsertaan mereka diharapkan dapat menjadi jembatan penyebaran pengetahuan kesiapsiagaan bencana ke seluruh warga.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD KBB, Dedi Supriadi, SE., M.M., menjelaskan bahwa inti dari kegiatan ini adalah membangun sistem kesiapsiagaan yang menyeluruh dan mendalam hingga ke tingkat akar rumput.
“Tujuannya sangat jelas, agar ketika bencana benar-benar terjadi, kita semua sudah siap sedia dan tahu persis langkah apa yang harus diambil, bukan malah menjadi bingung dan panik. Kita juga belajar dari pengalaman kejadian sebelumnya, seperti yang terjadi di Pasirlangu. Paling tidak, masyarakat memahami cara melakukan evakuasi mandiri yang benar—mulai dari cara mengamankan diri hingga teknik menggendong atau menolong korban dengan aman agar tidak menimbulkan cedera tambahan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa bencana alam, baik berupa tanah longsor maupun gempa bumi, merupakan peristiwa yang sulit diprediksi secara pasti kapan dan di mana akan terjadi. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas dan kesiapan diri menjadi kunci utama untuk meminimalisir dampak kerusakan serta risiko jatuhnya korban jiwa.
Ke depannya, BPBD KBB berkomitmen untuk terus mengedukasi dan melatih perwakilan dari seluruh desa di wilayah Kabupaten Bandung Barat secara bertahap. Langkah ini ditempuh guna menciptakan sinergi yang solid antara pengurus Desana dan aparatur pemerintahan desa.
Sebagai salah satu model yang dinilai efektif, di sejumlah wilayah seperti Desa Nyalindung, jabatan Ketua Destana dipegang langsung oleh Sekretaris Desa. Struktur semacam ini dianggap mampu memperlancar koordinasi serta memperkuat integrasi program mitigasi bencana di tingkat desa, sehingga kebijakan dan pengetahuan penanggulangan bencana dapat diterapkan dengan lebih cepat dan tepat sasaran*** ( Ds )
