Berita  

BPBD KBB: Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Masyarakat Kunci Utama, Kabid Dedi Supriadi Apresiasi Langkah Destana Gunung Masigit

 


NNCJABAR.COM | CIPATAT, BANDUNG BARAT — 11 September 2026 — Penguatan kesiapsiagaan bencana di tingkat desa menjadi fokus utama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat. Hal ini ditandai dengan kehadiran dan dukungan penuh pihak BPBD dalam kegiatan Pelatihan Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang diselenggarakan secara mandiri oleh Pemerintah Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, pada Jumat (11/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun ketangguhan menghadapi berbagai ancaman bencana alam yang mengintai wilayah tersebut.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD KBB, Dedi Supriadi, SE., MM., menegaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan langkah strategis yang sangat mendesak. Menurutnya, wilayah Kecamatan Cipatat, khususnya Desa Gunung Masigit, memiliki karakteristik kerawanan bencana yang cukup kompleks.

“Kegiatan peningkatan kapasitas relawan Desa Tangguh Bencana ini bukan sekadar acara rutin, melainkan langkah krusial dan sangat mendesak. Desa Gunung Masigit dan wilayah Kecamatan Cipatat secara keseluruhan berada di wilayah dengan potensi ancaman bencana yang cukup tinggi — mulai dari tanah longsor di tebing-tebing rawan, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” ujar Dedi di sela-sela kegiatan.

Ia mengingatkan kembali peristiwa kebakaran besar di kawasan Sarimukti pada tahun 2023 lalu. Peristiwa itu menjadi pengingat nyata bahwa ancaman bencana di wilayah tersebut bukan isapan jempol, sehingga kesiapsiagaan masyarakat mutlak diperlukan dan tidak boleh ditunda-tunda.

Dalam penanganan bencana, Dedi menekankan bahwa tidak ada satu pihak pun yang dapat bekerja sendirian. Konsep kolaborasi Pentahelix — sinergi antara pemerintah, masyarakat, media, dunia usaha, dan akademisi — menjadi fondasi utama yang harus terus diperkuat.

“Penanggulangan bencana tidak bisa diemban oleh satu pihak saja. Kami sangat menekankan pentingnya sinergi Pentahelix — pemerintah, masyarakat, media, dunia usaha, dan akademisi — harus berjalan beriringan. Semua elemen memiliki peran penting untuk memperkuat kesiapan kita bersama,” tegasnya.

Secara khusus, untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BPBD KBB terus mempererat koordinasi serta konsolidasi lintas sektor bersama unsur TNI dan Polri, guna memastikan upaya pencegahan maupun penanganan di lapangan berjalan cepat, terpadu, dan efektif.

Selain ancaman longsor dan karhutla, BPBD KBB juga mewaspadai potensi penyebaran abu vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat. Dedi menyampaikan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Jawa Barat dengan mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh Camat dan Kepala Desa di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

“Terkait potensi penyebaran abu vulkanik, kami telah menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur dengan mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh Camat dan Kepala Desa. Masyarakat kami imbau untuk tetap tenang namun selalu siap, serta menerapkan protokol dasar seperti menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan,” jelas Dedi.

Lebih lanjut, Dedi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam menghadapi bencana — tidak panik berlebihan, tetapi juga tidak abai. Konsep yang ditawarkannya adalah “bersahabat dengan bencana”: memahami potensi, mengenali tanda-tanda, dan selalu siap siaga.

“Kami ingin masyarakat tidak merasa takut berlebihan terhadap bencana, melainkan membangun kesadaran untuk ‘bersahabat’ dengan bencana. Artinya — pahami potensinya, kenali tanda-tandanya, dan selalu siap siaga. Waktu terjadinya bencana memang tidak dapat diprediksi, namun kesiapan kita bisa terus ditingkatkan,” tambahnya.

Sebagai bentuk kesiapsiagaan berkelanjutan, Dedi mendorong seluruh desa di KBB untuk meniru langkah Desa Gunung Masigit, dengan menyelenggarakan simulasi bencana secara berkala, idealnya setiap enam bulan sekali atau dua kali dalam setahun.

Di akhir pernyataannya, Dedi Supriadi memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Desa dan Relawan Destana Gunung Masigit atas inisiatif mandiri menyelenggarakan pelatihan ini. Langkah ini dinilai patut menjadi teladan bagi desa-desa lainnya.

“Inisiatif Desa Gunung Masigit yang secara mandiri menggelar pelatihan peningkatan kapasitas relawan ini patut diapresiasi dan menjadi teladan bagi desa-desa lainnya. Melalui pelatihan ini, para relawan Destana diharapkan benar-benar memahami tindakan cepat dan tepat saat tanggap darurat terjadi,” puji Dedi.

Rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan simulasi tanggap darurat bencana yang dilaksanakan ba’da shalat Jumat, di bawah koordinasi Ketua Destana Gunung Masigit, Kang Anjar.

Kepala Desa Gunung Masigit, Tarkopa, S.Pd.I., menyampaikan bahwa seluruh pembiayaan kegiatan ini bersumber dari Alokasi Dana Desa (DD) Tahun Anggaran 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah desa dalam memastikan kesiapsiagaan warga serta memperkuat garda terdepan penanganan bencana di tingkat paling bawah.

“Alhamdulillah, Pemerintah Desa Gunung Masigit dapat melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas relawan Destana. Harapan kami, dengan hadirnya wadah dan pelatihan ini, para relawan bisa menjadi yang terdepan serta lebih sigap dalam menangani setiap potensi kebencanaan di wilayah kita,” ujar Tarkopa.

Selain pelatihan, Kades Tarkopa juga menerbitkan imbauan resmi kepada seluruh warga melalui jaringan Ketua RT dan RW, sebagai langkah preventif menghadapi potensi ancaman abu vulkanik, dengan poin-poin utama:

– ✅ Wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah
– ✅ Segera mandi dan membersihkan diri usai beraktivitas di luar ruangan
– ✅ Membatasi aktivitas luar rumah jika tidak mendesak
– ✅ Segera periksa ke tenaga medis jika merasakan gangguan pernapasan

Dengan berakhirnya kegiatan ini, diharapkan Desa Gunung Masigit semakin kokoh sebagai desa tangguh bencana, yang tidak hanya siap saat bencana datang, tetapi juga terus membangun kesadaran dan kesiapan sejak dini.***DS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *