•
NNCJABAR.COM | Bandung Barat, 9 Agustus 2026 – Semangat dan keanggunan gerak Jaipongan kembali mewarnai Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Minggu pagi ini. Di bawah arahan penuh semangat dari pimpinannya, Mochamad Yusep, Sanggar Tari Jaga Baya yang berpusat di Jalan Caringin, Desa Margajaya, Kabupaten Bandung Barat, sukses menggelar evaluasi tari tahunan ke-6. Sebanyak 85 anak didik dari berbagai tingkatan usia tampil membanggakan, menampilkan kemampuan menari Jaipongan mulai dari tingkat pemula hingga mahir di hadapan ratusan penonton yang hadir.
Kegiatan yang menjadi agenda puncak tahunan ini bukan sekadar pe 7Bnilaian kemampuan menari, melainkan bukti nyata keberlangsungan dan kelestarian warisan budaya yang dijunjung tinggi oleh Sanggar Tari Jaga Baya di bawah kepemimpinan Mochamad Yusep. Nama “Jaga Baya” sendiri tidak lahir begitu saja; nama ini telah melekat dalam sejarah budaya Sunda sejak masa ayahanda Mochamad Yusep, yaitu Endang Sumarna Sukatma—seorang maestro dalang wayang golek yang pernah meraih juara tingkat Jawa Barat pada tahun 1973. Kini, semangat melestarikan budaya itu diwariskan dan terus dijaga ketat oleh Mochamad Yusep, yang mengembangkan nama besar tersebut menjadi rumah bagi puluhan anak muda pencinta seni tari tradisional.
Dalam pelaksanaannya kali ini, 85 peserta yang terbagi ke dalam lima kelompok—mulai dari tingkatan TK, SD, SMP, SMA, hingga kelompok Remaja—menampilkan beragam gerak dan irama Jaipongan yang telah mereka pelajari sepanjang satu tahun terakhir. Ada keluwesan yang khas pada kelompok pemula, dan ketepatan gerak serta penghayatan yang mendalam dari kelompok yang sudah lebih mahir. Semua penampilan disusun dan dibimbing secara cermat oleh tim pelatih, termasuk Widia, putri dari Mochamad Yusep yang juga lulusan SMK Negeri 10 Bandung—sekolah seni yang dahulu dikenal sebagai KOKAR—sehingga pola pembinaan di sanggar ini tetap berakar pada metode dan pemahaman seni yang mendalam dan terukur.

Mochamad Yusep, selaku Pimpinan Sanggar Tari Jaga Baya, menyampaikan bahwa evaluasi tahunan ini memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar ujian keterampilan. “Bagi kami, ini adalah wujud tanggung jawab. Kami tidak sekadar mengajarkan cara menggerakkan tubuh mengikuti irama, tetapi menanamkan rasa cinta, penghargaan, dan pemahaman terhadap nilai luhur yang ada di balik setiap gerakan Jaipongan ini. Kami ingin nama Jaga Baya terus bermakna, dan anak-anak ini menjadi pelestari sesungguhnya, bukan sekadar penari,” ujarnya dengan haru di sela-sela acara.
Seiring dengan berakhirnya agenda evaluasi ke-6 ini, Sanggar Tari Jaga Baya secara resmi mengajak para generasi muda dan anak-anak untuk mendaftarkan diri. Sanggar siap menjadi rumah kreatif yang hangat bagi siapa saja yang ingin belajar, mengasah potensi seni, dan menjadi benteng pelestari budaya bangsa.
Bagi para orang tua yang ingin mengarahkan putra-putrinya ke kegiatan positif yang berkarakter, pendaftaran anggota baru kini telah dibuka. Mari bersama-sama menghidupkan panggung tari tradisional dan menorehkan jejak budaya untuk masa depan! Tegas nya
Lebih lanjut ia menambahkan, bahwa acara ini juga menjadi jendela bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat seni budaya yang menjadi identitas daerah. Melalui panggung terbuka seperti ini, diharapkan minat generasi muda terhadap seni tradisional terus tumbuh dan tidak tergerus zaman.
Suasana di lokasi acara terasa hangat dan penuh haru. Para orang tua tampak antusias menyaksikan anak-anak mereka tampil, tak jarang disambut tepuk tangan meriah dan sorak-sorai bangga. Kehadiran para pemerhati seni budaya dan tokoh masyarakat semakin menegaskan bahwa keberadaan Sanggar Tari Jaga Baya di bawah kepemimpinan Mochamad Yusep benar-benar dirasakan manfaatnya dan mendapat dukungan luas dari warga Kabupaten Bandung Barat.

Dengan berakhirnya evaluasi tari ke-6 ini, Sanggar Tari Jaga Baya berkomitmen untuk terus konsisten membina bakat dan karakter anak-anak melalui seni. Mochamad Yusep menegaskan, warisan budaya harus terus dijaga dan dihidupkan, tidak cukup hanya dikenang dalam cerita—tetapi harus terus ditampilkan, dirasakan, dan dihayati oleh generasi demi generasi.** ( DS )
