
NNCJABAR COM | BANDUNG BARAT, 24 September 2026 — Musim kemarau yang memuncak pada Agustus hingga September ini membawa dampak serius bagi sektor peternakan di Kabupaten Bandung Barat. Ketersediaan hijauan pakan ternak segar menurun tajam, mendorong Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakan) setempat untuk menggerakkan strategi ketahanan pakan yang tidak sekadar mengatasi masalah sesaat, melainkan membangun kesiapan jangka panjang.
Kepala Disnakan KBB, drh. Wiwin Aprianti, M.Si., menegaskan bahwa solusi yang diambil tidak boleh hanya berfokus pada mencari rumput di tempat lain, melainkan mengubah pola pikir peternak agar mulai menyiapkan cadangan pakan yang tahan lama dan bernutrisi terjaga.
“Masalah yang sebenarnya bukan sekadar kurangnya jumlah rumput, melainkan menurunnya kualitas gizinya. Hijauan yang tumbuh saat kekeringan atau sudah tua, kandungan nutrisinya jauh di bawah standar. Karena itu, kami mendorong peternak tidak hanya bereaksi saat kebutuhan mendesak, melainkan bersikap proaktif dengan membuat pakan awetan seperti silase maupun hay,” ujar Wiwin pada keterangan persnya, Rabu (24/9).
Kekeringan telah mendongkrak harga bahan pakan di pasar lokal secara signifikan. Harga tebon jagung naik dari Rp800 menjadi Rp900 per kilogram, sementara odot yang biasanya andalan, naik dari Rp750 menjadi Rp900 per kilogram. Ironisnya, kenaikan harga ini tidak disertai jaminan pasokan yang lancar—banyak pemasok rumput juga mengalami kegagalan panen akibat kemarau panjang.
Dengan populasi ternak ruminansia yang besar di wilayah ini—tercatat 26.717 ekor sapi perah dan 184.123 ekor domba—peternak mulai beralih ke sumber pakan alternatif. Jerami padi kering, ampas tahu, limbah hasil pertanian, serta pakan konsentrat berprotein tinggi kini menjadi andalan. Namun, langkah ini membawa konsekuensi: biaya pemeliharaan ikut naik, dan jika tidak dikelola dengan cermat, keuntungan peternak bisa tergerus habis.
Kesulitan ini terlihat nyata di Kelompok Tani Jaya Siliwangi, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua. Mengelola 70 ekor sapi perah, ketersediaan rumput di lahan mereka tinggal sepertiga dibandingkan masa penghujan. Produktivitas yang turun drastis memaksa mereka membeli jerami, bahkan mencari rumput hingga ke wilayah Subang dan Purwakarta—biaya angkut dan tenaga kerja pun menjadi beban tambahan yang tidak ringan.
Merespons situasi ini, Disnakan KBB melalui jajaran UPTD dan Balai Penyuluhan Pertanian memperketat pengawasan di lapangan, guna mendeteksi dini tanda-tanda kekurangan pakan sebelum berdampak buruk bagi kesehatan ternak. Wiwin merinci lima hal yang wajib diperhatikan seluruh peternak:
1. Siapkan stok sejak dini — jangan menunggu bahan pakan habis, manfaatkan saat masih tersedia untuk diolah.
2. Terapkan teknologi pengawetan — buat silase atau hay agar nutrisi pakan tetap terjaga dan tahan disimpan.
3. Jamin ketersediaan air — kebutuhan minum ternak meningkat seiring suhu udara yang tinggi.
4. Pantau kesehatan ternak secara berkala — kenali tanda stres atau kekurangan gizi sejak awal.
5. Jalin komunikasi aktif — segera hubungi petugas penyuluh atau pihak dinas jika mengalami kesulitan pengadaan pakan.
Ke depannya, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bertekad membangun sistem ketahanan pakan yang lebih tangguh dan tidak bergantung pada cuaca. Konsepnya: cadangan pakan harus sudah disiapkan sejak musim hujan, sehingga saat kemarau datang, pasokan tetap aman. Dengan demikian, fluktuasi iklim ekstrem tidak lagi mengancam keberlangsungan usaha peternakan dan kesejahteraan peternak di Bandung Barat.*** DS
