Berita  

“Tidak Cuma Wisata ! Exspedisi Cagar Budaya KBB Bikin sejarah tetap hidup ditengah kemajuan”

NURANI NEWS CHANNEL

 

NNCJABAR.COM | Lembang – Di tengah lonjakan modernisasi yang terus mengubah wajah wilayah, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bidang Kebudayaan menggelar kegiatan yang membawa makna mendalam: Ekspedisi Cagar Budaya, yang berlangsung pada Rabu (17/12/2025). Bukan sekadar kunjungan singkat, kegiatan ini dirancang sebagai langkah konkrit untuk menjadikan cagar budaya sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan yang berkelanjutan.

Sebagai wujud implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, ekspedisi ini tidak hanya menargetkan pengamatan fisik, melainkan lebih jauh: membangun jaringan ekosistem pelestarian yang terintegrasi. Para peserta yang berasal dari kalangan pemangku kepentingan kebudayaan – mulai dari pengelola situs, komunitas lokal, hingga akademisi – diajak untuk bersama-sama merenungkan empat aspek inti: perlindungan yang ketat, pemanfaatan yang bertanggung jawab, pengembangan yang adaptif, dan pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki wawasan sejarah.
Perjalanan yang dimulai sejak pagi hari membawa para peserta menjelajahi empat lokasi yang menjadi cermin berbagai babak sejarah KBB:
– Observatorium Bosscha (Lembang): Tidak hanya sebagai salah satu lembaga astronomi tertua di Tanah Air, lokasi ini menjadi bukti bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dunia telah mendarat dan berkembang di tengah pegunungan yang indah. Setiap instrumen penelitian di sana menyimpan cerita tentang perjuangan para cendekiawan dalam mengungkap rahasia alam semesta.
– Pendopo Eks Kawedanaan Lembang: Bangunan bersejarah ini tidak hanya sekadar struktur arsitektur, melainkan saksi bisu tentang tata pemerintahan yang telah berjalan selama puluhan tahun. Memori kolektif yang terpatri di dinding dan atapnya menjadi pondasi untuk memahami bagaimana tata kelola wilayah KBB berkembang hingga saat ini.
– Benteng Belanda Cikahuripan: Simbol strategi pertahanan militer kolonial yang memiliki nilai arsitektur unik dan cerita perjuangan rakyat lokal. Setiap tembok dan bentangan di benteng ini menceritakan perjuangan untuk mempertahankan tanah air, menjadikannya tempat pendidikan sejarah yang hidup.
– Villa Merah Sukawana: Terletak di tengah hamparan perkebunan teh yang rimbun, villa dengan arsitektur khas ini menyajikan gambaran tentang gaya hidup dan perekonomian era perkebunan klasik. Setiap ruangan dan ornamen di dalamnya menceritakan cerita tentang interaksi budaya dan perkembangan ekonomi di wilayah tersebut.

Hernandi Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud KBB menekankan bahwa pelestarian cagar budaya tidak bisa dilakukan sendirian oleh pemerintah semata. Melalui ekspedisi ini, para stakeholder diberikan kesempatan untuk melihat langsung kondisi objek sejarah, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, dan berbagi ide tentang potensi pengembangan yang tidak merusak nilai sejarah.

“Kekayaan budaya adalah jiwa dari identitas bangsa kita. Dengan mengadakan ekspedisi ini, kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan cagar budaya untuk kepentingan pariwisata dan pendidikan tetap seimbang dengan upaya perlindungan. Tujuan kami adalah agar generasi mendatang tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga bisa merasakannya secara langsung melalui objek-objek yang masih ada,” ungkap perwakilan Disparbud saat berbicara dengan peserta.

Kegiatan ini juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan. Setelah ekspedisi selesai, diharapkan akan terbentuk kolaborasi baru yang lebih erat antara pemerintah, komunitas lokal, dan lembaga akademisi. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadikan cagar budaya KBB lebih berdaya guna, baik sebagai sarana pendidikan sejarah maupun sektor ekonomi kreatif yang memberdayakan masyarakat sekitar.***

 

D.Suyud

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *